Pertemuan Archen dan Nata
Sesuai dengan janjinya dengan Nana, setelah selesai bekerja, Archen tidak balik ke rumahnya sendiri. Namun, kini ia menuju ke rumah orang tua nya.
//Di Rumah EarthMix//
Saat sudah sampai, gerbang rumah EarthMix di buka oleh Pak Sam (satpam). Archen menurunkan kaca mobilnya, ingin menyapa pak Sam.
“Soree pakk” sapa Archen “Soree nak Archen, loh tumben mampir, kangen pak Mix yaa?” kata Pak Sam sambil tersenyum ramah
“hehehe iyaa dan kebetulan hari ini ada waktu luang,pak” jawab Archen “tapi si bapak lagi ada tamuu loh nak Archen” info Pak Sam
'eh “dia” udah datang deluan kah?'-batin Archen
“loh siapa pak?” tanya Archen memastikan terkaannya
Wajah Pak Sam terlihat kikuk sambil menggaruk lehernya yang tak gatal, seakan Pak Sam enggan untuk menjawab pertanyaan dari Archen.
“anu_itu....katanya si bapak sihh yaa...ituu..emm...calon mantunya si bapak..hehee, tapi saya ga tauu ya... mungkin si bapak lagi bercandaa” kata Pak Sam ragu, seakan takut salah menyampaikan info ke Archen
“hahahaa Nana lagi bercanda kali pak” kata Archen ikutan canggung “hehe kayaknya iya deh” jawab Pak Sam sambil tersenyum kikuk
“ya udh Archen masuk dulu ya pak” kata Archen dan hanya dapet anggukan dari Pak Sam. . . . . Archen memasuki rumah bernuansa klasik tersebut. Ia mencoba tidak berteriak memanggil Nananya, karena ada “seseorang”. Archen ingin citranya tetap terjaga, dan pastinya ia tidak ingin terlihat seperti anak-anak. Jujur walaupun perjodohan ini belum pasti berujung ke pernikahan. Namun, Archen tetap ingin mempertahankan posisinya menjadi same.
//HAHAHAA...Nata harus lihat foto iniii..//suara dari ruang tamu
Archen menuju ke sumber suara tersebut. Ia melihat Nananya bersama seseorang pria, sedang asik bercanda sambil melihat suatu barang?
“Nana...” panggil Archen sambil mendekat ke mereka.
'stay cool Archenn, stay cool....'-batin Archen
“Loh Cheniee udah datang yaa, sinii duduk samping Nataa” kata Mix melihat anaknya itu.
Disisi lain, Nata yang awalnya santai berubah menjadi gugup. Nata menatap Archen, posisi duduknya menjadi tegap. Archen duduk pas di samping Nata, ia menatap Nata lekat. Nata yg ditatap sedikit risih.
'ANJINGGGG DSIFEHFUSHH INI APAAN SIH!!! KOK GA KAYAK YANG DI FOTO'-batin Archen
‘ini beneran cwo kan yaa? Kok gw ga percaya? Bentukan begini bertitid? INI GW DI BOHONGIN NANA GA SIH??’-batin Archen
‘langsung cipok gimanaa? HEHEHE’-batin Archen
—Dunk Natachai Boonprasert—

.
.
“Cheniee..Archen..Joong Arhen!!!” panggil Mix emosi “hah..eh..apa sih Naa, buat Archen kagett” kata Archen sambil mengelus dada nyaa. “kamu yang kenapaa! Ngeliatin Nata begitu bangett!” kata Mix Archen hanya tersenyum kikuk
“ya sudah, kalian kenalan dulu yaa” kata Mix sambil mengelus bahu Nata, Nata hanya tersenyum dan menganggung. “Kamu Archen, ajak Natanya ngobrol yaa, Nana mau telpon Babamu dulu” kata Mix, dan pergi meninggalkan Archen dan Nata berdua.
“emm kenalin aku Joong Archen, terserah kamu mau panggil apa” kata Archen sambil menjulurkan tangannya, Nata menyambut tangan Archen. “ehh aku Dunk Natachai, panggil Dunk ajaa” kata Nata “kenapa ga Nata?” sahut Archen cepat.
“sebenarnya itu nama panggilan buat orang-orang terdekat, tapi kalau kamu mau panggil Nata juga gapapa” jawab Nata. “oow terus anak kamu namanya siapa, Nata?” tanya Archen sambil menatap Nata dengan lekat.
Nata sedikit kaget, padahal ia sudah memikirkan banyak kemungkinan tentang reaksi Archen saat tau Nata sudah memiliki anak. Tapi semua kemungkinan buruk itu hilang saat Archen menanyakan anaknya dengan wajah biasa saja. Walaupun belum tentu Archen menerima anaknya, tapi setidaknya ia tidak perlu berusaha untuk memberitahu soal Jaidee.
“namanya Jaidee Boondin Boonprasert, dia masih berumur 4 tahun” jawab Nata. “dia ikut marga ibunya? Kenapa tidak ikut marga ayahnya saja, misalnya Jaidee Boondin Aydin” Archen mencoba menggoda duda anak satu yang ada di depannya saat ini.
“hah? Boonprasert itu marga ku BTW, aku AYAH nya Jaidee” jawab Nata sedikit ketus. “eh..oh iya...aduh maksud aku..anuu” Archen tidak bisa berkata-kata, dia tidak menyangka Nata akan marah dengan godaan nya. Archen menghela nafas sejenak. “maaff..” lirih Archen.
‘pantesan ga nikah-nikah, ternyata anaknya sefreak ini’-batin Nata
. . . Archen dan Nata tidak banyak berbincang, mereka kelihatan kaku dan canggung.